Rabu, 21 November 2012

Bekerja di Malam Hari Meningkatkan Risiko Stres

Anda yang kerap bekerja di malam hari sebaiknya berhati-hati. Menurut sebuah penelitian di Amerika Serikat, bekerja di malam hari dapat meningkatkan hormon stres penyebab depresi. Sedangkan fungsi kemampuan berpikir atau kognisi menurun.

Demikian dikatakan sebuah riset yang dipublikasikan di jurnal Nature. Menurut seorang profesor biologi di John Hopkins University America, Samer hattar, lampu di tempat bekerja dapat meningkatkan kadar hormon stres pada tubuh. Cahaya itu mempengaruhi bagian otak yang mengatur mood (suasana hati), daya ingat, dan proses belajar.

“Saya tidak mengatakan kita harus duduk di ruangan yang sangat gelap pada malam hari, tetapi merekomendasikan untuk mengganti dengan sedikit lampu, dan tetap menggunakan intensitas yang lebih rendah. Intinya, hanya digunakan untuk melihat,” kata Profesor Hattar.

Pernyataan itu disampaikan setelah Hattar dan peneliti lain mempelajari perilaku tikus. Menurut para peneliti, tikus dan manusia mempunyai banyak kesamaan dalam beberapa hal. Sehingga studi itu merupakan pelajaran penting bagi manusia.

Tikus-tikus yang terpapar lampu pada malam hari menjadi lebih depresi. Mereka kurang tertarik melakukan hal-hal yang menyenangkan. Mereka juga tidak suka mengeksplorasi obyek-obyek baru di kandang mereka dan tidak banyak bergerak. Tikus itu mempunyai level kortisol atau hormon stres yang lebih tinggi

Profesor Hattar dan rekan-rekannya juga menemukan bahwa cahaya terang berdampak pada sel-sel khusus di mata tikus. Sel itu disebut sel ganglion retina fotosensitif. Sel itu berhubungan dengan bagian otak yang mengatur mood, daya ingat, dan proses belajar.

Juru bicara untuk John Hopkins mengatakan ketika orang secara rutin membakar minyak pada malam hari, mereka mengalami risiko depresi dan proses belajar.

“Bukan hanya karena kurang tidur, orang ini juga bisa terekspos sinar terang pada malam hari dari lampu, komputer, bahkan iPad,” kata dia.

sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar