Jumat, 21 Desember 2012

Awas! Makan 'Cemilan' Tingkatkan Resiko Kanker

Cemilan keripik atau gorengan memang bisa menjadi 'teman setia' saat menonton televisi. Namun jika dikonsumsi terlalu banyak berpotensi meningkatkan risiko terserang kanker kolorektal.

Kanker kolorektal adalah jenis kanker yang menyerang usus besar (kolon) dan anus (rektum). Para ahli memperkirakan bahwa sekitar tiga dari setiap 100 kasus kanker kolorektal disebabkan oleh sindrom Lynch, yaitu kondisi warisan keluarga yang meningkatkan risiko kanker usus besar dan kanker lainnya.

Penelitian baru yang dipublikasikan dalam jurnal cancer yang diterbitkan oleh American Cancer Society, melihat bahwa makanan dapat menjadi faktor risiko untuk kanker kolorektal pada pasien dengan sindrom Lynch.

Dilansir mnn, para peneliti dari Wageningen University di Belanda yang dipimpin oleh Akke Botma, PhD, MSc, menemukan bahwa risiko kanker kolorektal lebih tinggi pada orang dengan sindrom Lynch yang gemar makan camilan yang tidak sehat.

"Pasien dengan sindrom lynch yang mengonsumsi lebih banyak makanan ringan seperti keripik atau gorengan, dua kali lebih mungkin mengembangkan polip yang dapat berkembang menjadi kanker dibanding orang yang hanya mengonsumsi sejumlah kecil makanan ringan tersebut," kata Botma.

Sementara itu kandungan acrylamide dalam kentang goreng diduga meningkatkan risiko mengidap kanker, terutama pada wanita muda.

Acrylamide adalah senyawa organik dengan rumus kimia C5H5NO. Senyawa ini dapat terbentuk pada bahan makanan berkarbohidrat tinggi, seperti jagung, kentang, singkong, dan tepung-tepungan yang disajikan dengan digoreng, dipanggang, atau dibakar pada suhu di atas 120 derajat celsius.

Sejumlah makanan, seperti keripik kentang, atau produk berbahan kentang lain, seperti kentang goreng, cereal (produk sarapan pagi), sejumlah produk bakery (roti panggang), dan produk yang dibuat dari jagung atau tepung jagung, diyakini memproduksi acrylamide dalam pengolahannya.

Hal ini terjadi karena penyajiannya secara umum memerlukan suhu tinggi dan waktu cukup lama, apalagi bila terjadi perubahan warna menjadi kecoklatan (terlalu matang) atau hangus.

Dan British Journal of Cancer (BJC) mempublikasikan penelitian para ilmuwan di University of Leeds, Inggris, melakukan penelitian berskala besar yang melibatkan 33.7331 perempuan berusia 35-69 tahun, yang memperoleh kesimpulan kebiasaan menyantap makanan mengandung acrylamide memperbesar risiko mengidap kanker payudara, khususnya pada wanita yang belum memasuki masa menopause.
sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar