Minggu, 10 Februari 2013

Pintu Depan Pintu Belakang


Dikala senja yang tak bermandikan kehangatan mentari sore, senja itu mulai beringsut jadi malam nan dingin, dengan hujan masih mengguyur tak selesai. Di keadaan dingin inilah ada dua makhluk tengah beradu kehangatan diatas sebuah ranjang, dengan gejolak nafsu menyelimuti mereka, disertai desahan nafas pemuncul birahi terus mengiang ditelinga keduanya. Itu masih berlanjut, sampai sebuah suara menghentikan kesibukan mereka, menghentikan sejenak olahraga malam diantara mereka berdua. Suara itu hanya suara engsel pintu yang terbuka, tapi yang membuat mereka menghentikan kegiatannya adalah pertanyaan tentang siapa orang yang telah membuka pintu barusan.
            “Apa itu dia?” bisik Sinta kepada Raka yang sejenak lalu masih menindihnya.
            “Sssttt… jangan berisik dulu, aku lihat bentar.” Sambil menyelipkan telunjuknya diantara sela bibir, Raka beralih dari posisinya. Ia kenakan, pakaian yang tanggal, dan beserakan diatas lantai kamar belakang rumahnya itu. Untuk segera melihat siapa orang yang barusan membuka pintu rumah besar itu.
            Langkahnya pelan, mengendap-endap disela-sela dinding rumah. Matanya mengintip kearah ruang tengah rumahnya. Disana istrinya, Sari tengah duduk menyandarkan tubunya kesofa. “Sayang-sayang…” panggil Sari berteriak.
Merasa dipanggil, Raka masih mengintip Sari yang sekarang menuju kamar tidurnya. Ia tau, istrinya pasti letih setelah habis bekerja. Dan setelah masuk kamar, entah kapan ia akan keluar lagi. Karena biasanya setelah masuk kamar, lalu mencuci bersih riasan yang memoles wajahnya dikamar mandi yang ada didalam kamar. Sari akan langsung tertidur. Raka tau benar kebiasaan istrinya ini, pertama karena Raka adalah suaminya, dan yang kedua ia harus tau kebiasaan istrinya supaya apa yang ia lakukan dengan Sinta bisa aman dan memuaskan pastinya.
Merasa aman, karena Sari telah masuk kedalam kamar. Dan tak mungkin lagi keluar, karena pastinya istrinya itu telah tertidur. Raka berjalan pelan menuju kamar belakang, sesampainya dikamar belakang. Ia mendapati Sinta telah mengenakan bajunya kembali, “Apa yang kamu lakukan?” bisik Raka pelan, takut kedengeran orang.
“Apa kamu ingin ketauan?”
“Kita belum selesai, aku masih bisa lama.”
“Nekat kamu.” Seru Sinta tak setuju. Tapi rupanya itu hanya bentuk tak setuju, tak bisa diaplikasikan jadi laku. Karena sebelum sempat ia memasangkan celananya, Raka telah lebih dulu menindihnya kembali. Hingga bisikan desahnya, terdengar lagi. Suara desah sangat pelan terdengar dari arah dalam kamar belakang.
Usai selesai mereka memberikan kehangatan. Raka dan Sinta melangkah untuk membuka pintu belakang rumah mewah Raka. Pintu itu adalah pintu yang langsung menuju ke jalan, tempat Sinta datang dan pergi dari rumah ini. Tak perlu menunggu lama, sampai sebuah taksi melalui jalan itu. Kemudian membawa Sinta pulang kerumahnya.
***
Rumahnya sudah terang, lampu depan telah dinyalakan. Pertanda suaminya sudah pulang. Dan benar saja, ketika ia masuk kedalam rumah. Disana suaminya tengah asik menonton acara bola di televisi. “Eh Mah… baru pulang?” tanya suaminya sambil terus asik melihat pertandingan bola di televisi.
“Iya. Udah lama pah?” suaminya menggelengkan kepala, tak beralih pandangan matanya dari layar kaca. “Ya udah ya pah, mamah langsung tidur ya? Capek banget.” Kata Sinta sembari melangkahkan kaki kedalam kamar.
“Nggak makan dulu?”
“Udah makan diluar tadi.” Jawab Sinta lalu menutup pintu kamarnya.
***
Jalan raya, ketika waktu pulang kerja sama dengan kemacetan. Itu yang sekarang sedang Sari alami. Tapi untunglah ada Bima disebelahnya, sehingga tak bosan ia menjalari kemacetan yang sudah jadi masalah akut ibu kota negeri ini. “Mau main dulu nggak yang?” Bima membuka suaranya.
“Ah kau ini.” balas Sari tersipu malu.
“Kenapa? Apa lagi nggak mau? Atau lagi nggak kuat?” goda Bima makin menjadi-jadi. “Gimana mau nggak? Kalau mau, aku nyimpang dulu kerumah kamu gimana?” anggukan kepala Sari tanda setuju. Membuat jari Bima sesekali mulai bermain-main dengan sesuatu yang ada dibalik rets sleting celana Sari sambil ia terus berkonsentrasi mengemudi.
“Ah kau ini…” manja Sari sambil mendesah.
“Emang kenapa?”
“Masa dimobil kayak begini?”
“Mumpung macet yang.” Jawab Bima asal.
Mobil itu beres terparkir di halaman depan rumah mewah milik Sari. Sari tak risih mengajak Bima masuk kedalam sana, karena ia tau kebiasaan suaminya yang selalu pulang malam. Dan jarang ada dirumah ketika malam baru saja datang. Pintu depan rumah, dibukanya. Dan seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya. Bima masuk kedalam rumah mewah itu dengan leluasa. Selesai pintu ditutup, ia menjadi benar-benar leluasa.
Didalam kamar, Sari dan Bima saling mengerayami tubuh masing-masing. Menebar nafsu yang terlarang, didalam kamar pernikahan yang dulu jadi saksi malam pertamanya dengan Raka. Sampai membuatnya kecanduan dengan apa yang bisa dilakukan Bima kepadanya. Yang dilakukan Bima lebih daripada apa yang biasanya sanggup dilakukan Raka padanya. Sehingga membuat ia lebih menikmati umbaran nafsu ketika bersama Bima dibandingkan dengan suaminya.
Desah nafas masih menghembus telinga Raka yang asik menindih Sinta. Walaupun barusan ia dengar ada deru mesin mobil istrinya masuk kehalaman. Ia tak perduli, nafsunya sudah tanggung memuncak. Sempat ia sejenak bertahan dengan posisinya, ketika pintu depan terdengar ada yang membuka, tapi kembali ia lanjutkan keasikannya bersama Sinta ketika pintu kamar depan terdengar terbuka lalu tertutup kembali.
***
Matahari pagi, menyinari halaman rumah Raka juga Sari. Tadi malam mereka sama-sama keletihan, dan sama-sama merasakan kepuasan. Walaupun tak dihasilkan oleh istri dan suaminya sendiri.
Sari duduk disebelah Raka, sarapan telur dadar dengan nasi goreng pedas. Memang masakan andalan Sari, itu karena hanya dua masakan itu yang bisa dibuatnya. Ia berfikir sebagai seorang wanita karir, tak perlu juga ia pandai-pandai memasak. Lewat uang yang setiap bulan ia hasilkan, membayar orang untuk memasak bukan suatu halangan.
“Pah… nanti sore ada waktu?”
Raka menegadahkan kepalanya, melihat wajah istrinya. “Emang kenapa mah?”
“Enggak. Kalau nanti sore ada waktu. Ada undangan makan malam dari perusahaan, perayaan menang tender pembuatan Wisma Atlet dari pemerintah.”
“Ah itu urusan kantor kan?” heran Raka dibalik alasan Sari mengundangnya dalam acara perusahaan tempatnya bekerja.
“Iya sih perayaan keberhasilan perusahaan. Tapi semua karyawan diminta untuk datang bareng pasangannya. Gimana dong? Ada Bima juga kok pah. Emang nggak kangen sama Bima?” mendengar nama teman semasa kuliahnya disebut-sebut. Raka mendadak jadi semangat untuk datang, ia sudah lama sekali tak bertemu temannya yang satu ini. Bertemu dengan sahabat karibnya yang sekarang satu tempat kerjaan dengan istrinya, rindu benar rasanya ia ingin bertemu Bima. “Bima juga bawa istrinya juga loh pah.”
Dari semangat, raut wajah Raka mendadak berubah jadi keheranan, “Emang kapan dia nikah? Kok kamu nggak pernah cerita si ma?”
“Lupa pah. Kalau masalah Bima nikah, kayaknya sih udah lama pah. Soalnya sebelum dia pindah ke kantor mama, dia udah nikah kok. Jadi gimana nih? Kangen nggak sama temennya?” cepat Raka menggangukan kepalanya. “Jadi ikut ya? Nanti jam enam jemput mama ya kekantor. Udah itu kita bareng-bareng ke tempat makannya, gimana?” senyum Sari terbesit di bibirnya. Karena merasa gosip kantor yang mengatakan kalau ia memiliki hubungan khusus dengan Bima bisa di hanguskan sekali gibas oleh kehadiran Raka disisinya.
“Boleh.” Cepat suara Raka menjawab, tak sadar maksud Sari istrinya.
***
Adzan Isya baru saja berkumandang. Ketika Raka dan Sari sampai disebuah restoran bertaraf internasional di wilayah ibu kota itu. Di dalam sana, sudah terlihat ada keramaian yang sedang terjadi. Raka juga Sari melangkah beriringan, terlihat benar mereka pasangan serasi. Rasanya selain masalah hubungan suami istri yang tidak memuaskan, tak ada lagi masalah dalam rumah tangga yang telah mereka jalin selama tujuh tahun kebelakang.
“Hai Raka. Sehat lo?” sapa Bima dengan gaya gaulnya yang khas ketika mereka masih menjalani studi di jurusan yang sama dulu.
“Sehat bro… lo gimana?”
“Sehat. Eh iya kenalin istri gue nih?” Bima menggandeng seorang wanita yang tadi tengah berbicara dengan beberapa istri karyawan kantor yang lainnya. Membuat wanita itu menghentikan pembicaraannya bersama sesama istri karyawan. “Ini istri gue Ka, namanya Sinta.” Ketika melihat istri sahabatnya, mendadak raut wajah Raka pias. Tak bisa berkata, hanya tangannya mencabat tangan Sinta yang sepertinya merasakan hal yang tak berbeda dengan Raka.
***
Suara ketukan pintu terdengar, membuyarkan konsentrasi Raka menonton televisi. Menjadikan bayangan nafsu terbesit dalam benaknya. Karena suara ketukan barusan bersumber dari pintu belakang. Kalau bukan Mbok Mira, pembantu rumah mereka yang datang lewat sana. Hanya satu orang lagi yang biasa datang kerumah Raka melewati pintu itu.
“Ternyata benar kamu?”
“Emang kamu kira siapa lagi?”
“Mbok Mira.” Sahut Raka spontan.
“Tega, kamu samakan aku dengan babu.” Raka tak bersuara, senyumnya merekah mendengar Sinta marah padanya. “Kok ketawa? Ada yang lucu?”
“Kamu nggak cerita kalau kamu itu istrinya Bima?” Raka mengalihkan pembicaraan.
“Apa ada masalah kalau aku istrinya Bima? Lagian kamu nggak pernah nanya tentang suamiku?”
“Nggak… nggak ada masalah. Masalah kita cuman urusan ranjang, sama desahan. Bukan yang lain kan?” Merasa terpancing, Sinta meraih tangan Raka lalu menggengamnya. Dan seperti biasanya, setelah datang dari pintu belakang. Raka dan Sinta menuju kamar belakang, saling berselimut dalam nafsu, disertai desahan nafas pemuncul birahi terus mengiang ditelinga keduanya. Seperti biasanya rupanya.


Bandung, 1 September 2012














Tidak ada komentar:

Posting Komentar