Kamis, 25 Oktober 2012

Dino Patti: Keahlian dan Konektivitas Dibutuhkan Dunia Kini

Mata uang yang terpenting untuk bertahan pada abad ke-21 adalah keahlian. Sebab, itu dapat dijadikan senjata berkompetisi di dunia internasional.

"Selama Anda punya bakat, Anda bisa bekerja di mana saja. Tidak ada lagi waktu untuk memikirkan rasisme, karena dalam sebuah perusahaan semua warna kulit sudah bercampur," kata Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal pada Konferensi Futurologi Internasional 2012 di Jakarta, Sabtu (20/10).

Menurut Dino, terdapat tujuh juta manusia di dunia. Lima juta di antaranya berusia 15 tahun ke atas, dan tiga juta orang membutuhkan pekerjaan formal. Namun pekerjaan yang tersedia saat ini hanya 1,2 juta di dunia, sehingga dibutuhkan 1,8 juta lapangan pekerjaan lagi.

Persaingan yang sangat ketat tersebut menuntut peningkatan kompetensi, terutama di bidang kehalian bahasa. "Tidak hanya cukup bagi kita untuk bisa berbahasa Inggris, perlu bahasa lain seperti Bahasa Mandarin, Jepang dan lainnya. Selain itu, kalau Anda ingin bisa tumbuh dan berkembang, kembangkan hal yang unik," kata Dino.

Dino memaparkan empat hal untuk tumbuh dan berkembang di abad 21. Selain keahlian, hal yang sama pentingnya adalah konektivitas. Sebab, konektivitas dapat menjadi kekuatan untuk melebur dengan negara atau kelompok lain di berbagai belahan dunia.

"Bahkan konektivitas dapat membuat seseorang lebih besar daripada sebuah negara, misalnya saja telepon genggam Iphone, dahulu produk tersebut digunakan untuk jaringan keamanan Amerika, saat ini ada di tangan Anda," kata Dino.

Pada 2011, terdapat 983 situs di internet, jutaan pengguna media sosial Facebook, enam juta pengguna telepon genggam dan dua juta orang memiliki email. Hal ini membuktikan betapa pentingnya konektivitas.

Selanjutnya, Dino mengatakan, yang tidak kalah penting adalah tentang pola pikir. Artinya, pola pikir seseorang akan mendorong orang tersebut berbuat dan menjadi sesuatu. Namun, kebanyakan masyarakat Indonesia terperangkap dalam sebuah paradoks mengenai apa yang dipikirkan tidak sesuai dengan tindakan.

"Misalnya kita ingin unggul, tapi takut bersaing, ingin maju tapi malas berinovasi, kita harus tolak paradoks tersebut," ujar Dino.

Yang terakhir adalah mengubah strategi dengan lebih banyak bekerja sama dan terintegrasi dengan pesaing-pesaing yang potensial. Misalnya, Vietnam dan Myanmar pernah mengklaim bahwa pembentukan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) merupakan negara-negara yang sangat dekat dengan negara Barat. Namun dengan perubahannya, akhirnya ASEAN merangkul kedua negara tersebut.

"Kemudian dengan organisasi G7, pada abad 21 sekarang menjadi G20. Indonesia masuk ke dalamnya dan bekerja sama dengan negara lain dalam bidang perekonomian," kata Dino.

Dengan demikian, Indonesia membutuhkan apa yang disebut Vitamin M oleh Dino, yaitu multikulturalisme, meritokrasi dan multilateralisme, sehingga mampu menuju "hati nurani global".


sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar