Senin, 21 Januari 2013

Sejenak Dalam Masa Lalu




Mata sembabnya memandang kearah luar, dari jendela kamar yang sengaja dibuka. Pandangannya jauh, melewati batas masa, tanpa ada waktu yang jadi komposisi ingatannya. Tak siang tak malam, pikirannya selalu menembus waktu. Mengores masa yang berjalan melaju kedepan, atau kadang dipaksa tuk mengingat mundur kebelakang. Ingatan akan sosok yang paling dicintainya, selalu membayang. Mewarnai pikiran dengan semua bias warna pengalamannya.
            “Nda…” suara pelan, berat, keluar dari mulut seorang tua yang letih.
            “Iya Bu.”
            “Mau sampai kapan kau begini Nak?”
            “Begini apanya bu?” tanyanya, tanpa lepas dari memandang keluar jendela.
            “Sampai kapan kau mau menunggunya?”
            “Entahlah bu.”
            “Apa kau tak letih menunggu?” sekarang bukan hanya suara yang bisa didengar telingannya, ada sentuhan halus dipundaknya yang bisa dia rasa.
            Kepalanya menoleh tuk melihat sosok yang begitu perhatian yang ada disebelahnya, “Apa ada menunggu, tanpa adanya letih bu?”

***

            Gadis yang baru beranjak remaja itu bernama Ninda. Seperti gadis-gadis lain seusianya, saat itu perasaanya tengah bergejolak karna rasa cinta. Dan cintanya itu jatuh kepada seorang pemuda, tampan rupanya. Pemuda itu pemilik mata sebening telaga, senyum bercahaya bagai matahari dipagi hari. Dan pemuda itulah yang telah berhasil menundukan hatinya, memutar balikan segala logika jadi kegilaan berlandaskan cinta.
Berkisah kasih mereka menjalani hari-harinya, lewat komposisi rayuan, serta tawa renyah saat merasa terhibur. Jendela kamarnya jadi saksi kisah cinta mereka berdua. Tiap malam, selepas adzan Isya berkumandang, selalu saja ada suara ketetukan dari luar sana. Bila sudah mendengar ini, langkah cepat yang akan jadi jawabannya. Tak lupa dihiasi senyum yang terus menyembul dari bibir pembuka jendela, merasa orang yang ditunggunya telah tiba.
Ketika jendela itu telah buka, dari sana akan memperlihatkan sosok nan dirindukannya. Terang bulanlah yang akan menampakkan wajahnya, walaupun keadaan diluar jendela itu gelap gulita. “Kenapa kau terlambat?” lewat wajah dibuat ketus, Ninda merajuk pada Rama kekasihnya.
            “Ah… baru lima menit.”
            “Kau ini.”
            Rama akan masuk kedalam kamar itu, bukan seperti tamu lainnya yang melewati pintu depan rumah. Ia memilih jalur bebas hambatan, ala maling yang punya rencana mengasak kediaman targetnya. Melewati jendela kamar salah seorang anggota keluarga, dan selalu jendela kamar Nindalah yang jadi tempat masuknya kedalam kamar.
            Logika yang telah berputar balik itu begitu mudah dirasuki nafsu yang berkoar ditelinga mereka. Bujuk rayu Rama padanya, begitu berat tuk ditolaknya. Maka jendela yang tadi terbuka, akan tertutup rapat setelah Rama memasukinya. Pintu kamar Ninda yang biasa terbuka, akan ia kunci rapat-rapat. Menghindari ada yang masuk kesana, dan memergoki mereka.
            Saat Adzan Subuh berkumandang, itu adalah pertanda bahwa perkelanaan mereka harus terhenti. Satu gerakan yang sama ketika membuka jendela tuk memasukan Rama kekamarnya, dilakukan Ninda kembali. Tapi kali ini untuk mengeluarkan kekasih hatinya. Begitulah yang terjadi, dari hari ke hari, yang berganti minggu ke minggu.

   ***

            “Mengapa kau harus pergi?” suara Ninda meledak saat Rama mengungkapkan sesuatu yang mengejutkannya.
            “Aku tidak ingin membuat malu keluargaku sayang, hanya sebentar dan aku akan kembali. Jika aku tetap disini, aku hanya penganguran tak punya pekerjaan.”
            “Mengapa keluargamu harus malu dengan itu?”
            “Aku tidak bisa begini terus sayang. Hanya menumpang dirumah, tanpa kerja, tanpa penghasilan.”
            “Mengapa harus pergi ke kota? Apa tidak bisa disini saja mencari kerja?” rintik air mata membasahi pipi Ninda. Diluar sana, bulan bercahaya terang benderang. Tapi pandangannnya saat ini entah mengapa begitu kelam.
            “Daerah ini tertinggal, dan tak ada lagi kerja yang menjanjikan disini.”
            “Apakau rela meninggalkanku disini sendiri?”
            “Mengapa kau pikir aku sanggup melakukan itu?” tak ada suara lagi diantara mereka. Hening menelan semua kata-kata, menampungnya hanya dalam hati dengan semua tanya yang bersemi dipikiran, tak bisa dikatakan. Hanya gerakan yang sudah terbiasa mereka lakukan dikala malam, membuat mereka bersuara. Beberapa tawa yang kemudian berubah jadi ringkikan, atau malah suara seperti orang sedang menginjak tanah becek yang muncul diantara mereka.
            Seperti biasanya, Adzan Subuh adalah pertanda. Pertanda perjalanan meletihkan mereka harus berhenti, dengan terpaksa mereka menghentikannya. Rama pergi, sesudah kecupan dikening Ninda membuat matanya terpejam sementara.
            “Kau harus kembali!” ucap Ninda bernada mengancam.
            Sebersit senyum yang bermakna dalam, begitu tenang Rama keluarkan penanda perpisahan. “Aku berjanji sayang.”

   ***

            Lima tahun berlalu dari waktu perpisahan itu, jendela kamarnya masih tak berubah. Masih jadi saksi hari-harinya Ninda. Jadi saksi lamunannya tentang kekasihnya, lamunannya tentang Rama. Sering ia tanyakan apakah ada yang tau tentang kabar Rama sekarang, tapi semuanya mengeleng kepala sebagai jawaban. Sekitar tiga tahun dari kepergian Rama, keluarga Rama juga terpaksa meninggalkan kampung mereka karena rumah satu-satunya, terpaksa disita oleh rentenir penagih hutang. Entah dimana mereka sekarang tinggal. Tak jelas juga kabarnya.
Ninda masih menunggu kekasihnya kembali, hanya berharap. Dilumuri sesal, dan sedih didalam hati. Ia merasa malu membaur dengan para teman-teman sebayanya, karena tak tau siapa orangnya telah menyebarkan kebiasaannya yang sering bercengkrama dengan Rama dari malam sampai menjelang pagi.
            Harga dirinya terinjak, keluarganya dikucilkan dari pergaulan di kampung mereka. Dianggap sebelah mata, dengan hinaan yang tak terukur perihnya. Rasa cintanya yang sudah memutar logika, membuatnya bisa melakukan hal yang tak seharusnya ia lakukan. Dan kini, semua itu hanya menghadirkan penyesalan, dan ritihan tangis disetiap waktunya.
            Kecewa yang mendalam, karena kekasihnya yang dicinta telah menghianatinya, karena  telah membohonginya. Mengambar gores dalam batinnya. Setiap bait kecewa yang menghampiri pikirannya, akan mengarahkannya kedalam kenangan-kenangan saat Rama memasuki kamarnya, setelah menaiki jendela kamarnya, lalu menaiki kasur untuk kemudian mengajaknya berpetualang. Bagai desir angin yang tenang, dan membuat rasa sejuk, bukan kedinginan.
            Wajahnya yang bening, mata yang tenang bak telaga, senyum terang bagai mentari pagi yang bersinar. Menghiasi pikiran, juga kenangannya. Mengisi hari-harinya. Biar tubuhnya ada dimasa depan, pikirannya telah terpenjara masa lalu. Terbenam dalam ingatan, tak sadar masa depan. Terkubur dalam penyesalan.

   ***

            “Ibu. Nenek.” Suara seorang anak yang menggalihkan lamunannya. Ninda tersenyum, ibunya yang dari tadi terus duduk disebelahnya juga tersenyum. “Ada apa Rama?”
“Nenek sama Ibu lagi ngapain sih? Kok pada diem ngeliatin apaan sih disana?” tanyanya polos, yang kini tak hanya dibalas oleh senyuman sepasang wanita ini. Tanya itu dijawab lewat senyum juga rintikan tangis yang keluar dari kelopak mata mereka masing-masing. “Nenek sama Ibu kenapa nangis?”
“Nggak kenapa-napa sayang.” Tubuh mungil itu kini tak dibiarkannya berdiri, tubuh itu Ninda dudukan dipangkuannya. Elusan pelan, diatas kepala bocah itu mengalir rasa sayang yang hanya akan dimengerti oleh para kaum ibu sepertinya.
“Bu…”
            “Apa Rama?”
            “Kapan ayah pulang ya bu? Kok lama banget sih perginya?”
           
             
Bandung, 6 Juni 2012


Tidak ada komentar:

Posting Komentar