Senin, 21 Januari 2013

Orang Paling Sopan




Gerbang istana yang ada dihadapannya. Begitu besar, tinggi, berdiri dengan teguh, kukuh, sekaligus angkuh. Menimbulkan sedikit tindihan intimidasi siapa saja yang berdiri dihadapannya. Menunggu dimuka gerbang, Khadir akan menuju ketempat dimana ia pernah sekali bertemu dengan orang yang paling dihormati dinegerinya. Disana, didalam sana ia pernah bertemu seseorang yang paling dihormati di negerinya. Beliau adalah Raja dari negeri tersebut, Raja Abdurahman namanya.
Kabar kembalinya Khadir dari perasingannya yang tujuh tahun lamanya, tersebar dari mulut ke mulut, dari satu telinga merambat ketelinga yang lainnya. Hingga akhirnya berita kembalinya Khadir itu diketahui oleh sang Raja. Ini yang jadi alasan Khadir datang keistana siang ini. Semua karena Raja Abdurahman mengundangnya tuk menghadiri makan malam bersama.
Sebelumnya Khadir memang pernah mendapatkan undangan serupa, dari Raja. Khadir yang waktu itu dijuluki sebagai orang tersopan dinegerinya. Karena keramahan, serta kesopanannya dalam bersikap, juga bersosialisasi dengan orang disekitarnya. Suatu hari, mendapatkan kehormatan dari kerajaan. Berupa undangan keistana guna menghadiri sebuah acara makan malam bersama Raja. Walaupun acara itu terpaksa diakhiri lebih cepat dari rencana, karena satu kesalahan yang tak disengaja telah dilakukan Khadir dihadapan sang Raja. Sebuah kesalahan yang tak pernah ia bisa lupakan. Sebuah kesalahan yang secara dramatis telah mencoreng nama Khadir, dari daftar orang tersopan dinegerinya. Satu kesalahan yang tak mungkin bisa dimaafkan karena dilakukan dihadapan orang yang paling agung dinegerinya, dihadapan Raja Abdurahman.
            Dalam benak Khadir saat ini, pertanyaan terus saja berseliweran, berpaut, berkutat tak bisa pergi dari kepalanya. Mengapa Raja mengundangku ke istana? Sementara aku pernah berbuat memalukan dihadapannya? Apa aku akan masuk kedalam rentetan orang tersopan dinegeri ini lagi? Atau malah Raja Abdurahman ingin balas dendam karena aku pernah membuat malu didepannya?
***
Ia melangkah bagai tak berjiwa, badannya gamang diterpa kenyataan yang bahkan tak pernah berani tuk ia impikan. Begitulah keadaan Khadir saat ini. Semenjak sebuah berita datang padanya kemarin, Khadir seakan hidup didunia lain. Hidup di dunia yang tak bisa ia percaya, walaupun masih nyata tuk ia dirasa. Berita dari seorang pesuruh istana itu pangkal awal yang membuat Khadir jadi begini rupa. Sebuah berita undangan makan malam dari Raja Abdurahman untuknya.
            Khadir tak menyangka, atau malah ia tak pernah sampai berani bermimpi untuk bisa diundang makan malam oleh Raja. Oleh orang yang memerintah negeri tempat dimana ia menetap, bekerja, menikah, juga membina keluarga. “Aku hanya seorang petani, jadi alasan apa yang membuat Raja Abdurahman mengundangku makan malam bersamanya?” tanyanya sewaktu pesuruh kerajaan, menyampaikan titah Raja Abdurahman padanya.
            “Hamba hanya menyampaikan undangan ini saja tuanku.” Sahut pesuruh istana itu halus.
Khadir termangu. Dari penampilan, juga mungkin pendapatan. Jelas pesuruh istana yang ada dihadapannya sekaran ini, jauh berada diatasnya. Tapi mengapa ia terlihat begitu hormat pada Khadir yang hanya seorang petani miskin yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan istana?
Dimakan kebingungan. Tapi tetap saja kenyataan seburuk apapun harus diterima dengan lapang dada, begitupun dengan kenyataan yang baik itu juga harus diterima dengan suka cita. Maka disinilah sekarang Khadir, dimuka gerbang istana untuk bertemu seseorang yang tak pernah ia berani impikan bisa dipertemukan dengannya yang hanya seorang petani miskin.
“Siapa anda? Dan ada perlu apa datang ke istana?” suara penjaga gerbang istana lantang berwibawa, badannya yang tegap menambah kesan angkuh dalam sosoknya.
Badan Khadir gemetar, mendengar suara penjaga yang lebih mirip seseorang yang tengah mengintrogasi daripada bertanya. “Saya Khadir, mau keistana karena diundang baginda Raja Abdurahman untuk makan malam bersamanya.”
Sang penjaga gerbang yang tadi tegap tak bergerak, hanya ekor matanya yang melihat kearah Khadir. Tiba-tiba membungkuk kearah Khadir yang ada didepannya. Setelah kembali mengangkat wajahnya, ia sengaja memberikan senyuman terbaik yang ia punya. Setelah itu cepat memberi sebuah tanda pada orang yang berada diatas gerbang, agar ia segera membuka gerbang. Seakan tak ingin tamu didepannya, terlalu lama menunggu tuk masuk. “Silahkan tuanku.” Katanya mempersilahkan, setelah gerbang istana terbuka sepenuhnya. Khadir tersenyum, berjalan melewati penjaga gerbang barusan.
Sampai didalam istana, Khadir merasa seakan ia tengah berada disuatu alam yang berbeda. Pemandangan tanaman yang hijau, dengan pohon-pohon penghias saling mengisi seluruh taman istana. Pemandangan seperti ini tak pernah dapat ia bayangkan sebelumnya. “Apakah ini yang selama ini orang bilang istana?” bisiknya kepada diri sendiri.
“Selamat siang tuanku.” Seorang wanita muda menyambutnya ramah, cepat mata Khadir mengarah pada wanita itu. Walaupun itu berarti ia harus menghentikan sejenak kekagumannya akan suasana taman istana, yang baru saja menyambutnya. “Mari ikut hamba. Baginda Raja Abdurahman sudah menunggu tuanku sedari tadi.”
Khadir mengikuti wanita muda yang sekarang berjalan didepannya. Masuk kedalam istana, sampai didalam kekagumannya rupanya belum mau berhenti. Lepas dari taman, serta lorong-lorong istana yang begitu asri dengan pohon-pohon yang saling menyilang disisinya. Saat ini mata Khadir mulai disergap cahaya keemasan yang berasal dari dinding-dinding ruangan, tempat ia berjalan menuju ruang utama istana.
Langkahnya terhenti disebuah ruangan yang begitu besar, dengan dinding yang dilapisi emas. Didalam ruangan itu ada sebuah meja panjang yang mungkin muat untuk makan sampai dua puluh orang, walaupun bangku yang disediakan hanya dua saja.
Cukup lama menunggu, akhirnya Raja Abdurahman menemuinya. Beliau berjalan dengan sangat pelan perlahan ketika menghampiri Khadir yang sedang duduk. Melihat ini, cepat-cepat Khadir berdiri, tuk menunjukan rasa hormatnya pada Raja dinegerinya. “Silahkan duduk Khadir.” Ucap Raja Abdurahman sedikit kata, walau dengan penekanan disetiap suku kata yang dikeluarkannya.
“Kau pasti bingung alasan apa yang membuat aku mengundangmu ke istana bukan?”
“Iya benar baginda.” Suara Khadir ragu.
“Aku dengar kau adalah orang paling sopan dinegeri ini. Apakah itu benar?” Khadir tak menjawab, ia keliatan kebingungan dengan apa yang hendak disampaikanya. “Apakah itu benar?” ulang Raja Abdurahman bertanya sekali lagi padanya.
“Jujur, hamba tidak terlalu memikirkan itu baginda. Walaupun hamba banyak membantu, ramah, serta baik kepada orang-orang disekitar hamba. Hamba tak memikirkan penilaian seperti itu.”
 Raja terlihat sangat kagum atas jawaban Khadir. Matanya tertutup, anggukan kepala perlahan menunjukan itu semua. “Aku senang dengan jawabanmu.”
Semua berjalan lancar, Raja terlihat begitu terkesima dengan jawaban yang diutarakan Khadir guna menganggapi pertanyaan-pertanyaan yang meluncur dari mulutnya. Rasa senang jauh didalam batin Khadir karena apa yang pernah ia dengar tentang Raja memang benar adanya. Beliau adalah seorang yang bijak, sangat terididik, dan memiliki wawasan yang luas.
Hingga terjadilah satu kejadian yang amat tak disengaja oleh Khadir. Selepas makan, iya yang memang miskin sehingga tak pernah merasakan masakan enak sebelumnya, kali ini makan begitu banyak mungkin melebihi kapasitas perutnya. Akhirnya orang yang terkenal sopan diseluruh negeri itu, tak sengaja. “Uaaaggghhh…” bersendawa akibat kekenyangan.
Dari menyantap makanannya, mata Raja Abdurahman perlahan-lahan terangkat. Tatapannya tajam kearah Khadir. Sedangkan Khadir yang barusan sudah begitu tak sopan dihadapan Raja, mulai mengeluarkan keringat dingin dari tubuhnya.  
***
“Khadir.” Suara seorang yang berwibawa memecah lamunannya, membuyarkan pelukan keterpanaan yang barusan membuatnya terkagum-kagum. Cepat ia menunduk setelah melihat orang yang barusan memanggilnya itu.
“Baginda Raja.” Sahut Khadir pelan, tapi tegas.
“Sudah berapa lama kita tak berjumpa?”
Khadir langsung mengangkat kepalanya, badannya ia tegapkan tuk melihat muka Raja yang sekarang sedang memandang kearahnya. “Hamba malu pernah berlaku tidak sopan dihadapan yagn mulia.”
Tidak menjawab, Raja malah melangkahkan kakinya untuk mendekati Khadir. Setelah lebih dekat, tangan Raja menepuk pundak Khadir pelan-pelan. Sebersit senyum tergurat di bibirnya. “Tenang saja, aku sudah melupakan kejadian kau bersendawa didepanku.” Kepala Khadir makin menunduk mendengar jawaban Raja barusan. Ada desir sindiran yang tergores dalam kata-kata yang menjadi kalimat saat Raja berbicara.

Bandung, 2 Juli 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar